Dianggap Meresahkan Nasib Tragis Eks Dosen UIN Viral: Guling-Guling di Jalan, Jual Rumah Setelah Diusir Warga
Media Tanjungbalai – Dianggap Meresahkan Kisah menyedihkan datang dari seorang mantan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) yang videonya viral di media sosial setelah terekam sedang berguling-guling di jalan sambil menangis histeris. Aksi yang mengundang perhatian publik itu bukan sekadar luapan emosi, tapi cerminan dari kondisi psikologis dan sosial yang semakin terjepit. Sang eks dosen diketahui terpaksa menjual rumahnya setelah disebut-sebut diusir oleh warga sekitar karena dianggap meresahkan.
Peristiwa ini memunculkan reaksi beragam, dari simpati hingga keprihatinan atas kondisi kesehatan mental, serta pertanyaan besar: benarkah seorang mantan pendidik bisa sampai sebegitu terpuruknya tanpa ada yang menggandeng tangannya?
Aksi Guling-Guling Viral: Luapan Frustrasi atau Alarm Kesehatan Mental?
Video berdurasi kurang dari satu menit yang beredar luas di platform X (dulu Twitter), TikTok, dan Instagram itu memperlihatkan sosok perempuan paruh baya mengenakan jilbab lusuh berguling-guling di tengah jalan sambil berteriak dan menangis. Warga sekitar tampak menonton dari kejauhan tanpa ada yang mendekat atau mencoba menenangkan.
Belakangan, diketahui bahwa sosok tersebut adalah eks dosen dari salah satu fakultas di UIN. Menurut informasi dari warga setempat, perempuan tersebut kerap menunjukkan perilaku yang dianggap “mengganggu”, seperti berbicara sendiri, memarahi tetangga tanpa sebab, hingga melakukan ritual aneh di halaman rumahnya.
“Awalnya kami sabar, tapi lama-lama jadi takut juga. Pernah suatu malam dia teriak-teriak sendiri sampai tengah malam. Warga sudah lapor RT dan aparat setempat,” ujar salah seorang warga.
Baca Juga: Pilot TNI AU Jajal Jet Tempur Rafale, Sukses Terbang Solo di Langit Perancis
Jual Rumah Setelah Diusir Tak Resmi
Setelah kejadian viral itu, eks dosen tersebut diketahui menjual rumahnya secara mendadak. Proses jual-beli rumah dilakukan tanpa banyak proses formal, seolah ia ingin segera angkat kaki dari lingkungan yang sudah tak lagi menerimanya.
Meski tidak ada surat pengusiran resmi dari pihak berwenang atau warga, tekanan sosial yang ia alami diduga menjadi pemicu utama. Warga mulai menjauh, tidak mau berinteraksi, bahkan beberapa melarang anak-anak mereka lewat depan rumah eks dosen itu.
“Dia sebenarnya pintar dan dulu sangat dihormati. Tapi entah kenapa, sejak pensiun atau mungkin ada masalah keluarga, sikapnya mulai berubah. Lama-lama warga merasa tak nyaman,” tambah warga lainnya.
Dianggap Meresahkan Dosen yang Terlupakan?
Salah satu hal yang mencuat dari kasus ini adalah hilangnya sistem dukungan bagi mantan akademisi yang mengalami krisis. Tidak ada pendampingan dari pihak kampus, tidak ada perhatian dari lembaga sosial, bahkan pemerintah daerah pun belum terlihat memberikan intervensi.
Padahal, sebagai mantan dosen di institusi pendidikan tinggi negeri, semestinya ia memiliki akses terhadap jaringan sosial dan profesional yang bisa membantunya.
“Ini bukan cuma soal warga yang merasa terganggu, tapi ada kegagalan sistem kita dalam melindungi para intelektual yang jatuh dalam masalah psikologis. Mereka yang pernah mengabdi di dunia pendidikan tidak seharusnya dibiarkan terlunta-lunta seperti ini,” ujar Dr. Yuniarti, pemerhati isu kesejahteraan akademisi.
Dianggap Meresahkan Isu Kesehatan Mental di Kalangan Intelektual
Kasus ini kembali membuka mata banyak pihak tentang pentingnya kesadaran terhadap kesehatan mental, bahkan di kalangan orang-orang yang dianggap “cerdas” atau “berpendidikan tinggi”. Banyak dosen, guru, maupun pensiunan pejabat akademik yang mengalami tekanan psikologis setelah pensiun atau kehilangan peran sosialnya.
Sayangnya, stigma terhadap gangguan mental di masyarakat masih sangat tinggi. Alih-alih dirangkul, mereka justru dijauhi.
Penutup: Kasus Ini Panggilan untuk Introspeksi Kolektif
Nasib eks dosen UIN yang harus menjual rumah dan berguling di jalan karena terpinggirkan adalah gambaran nyata bahwa sistem kita — baik sosial maupun institusional — masih belum siap menangani kasus-kasus seperti ini. Masyarakat terlalu cepat menilai “meresahkan”, tanpa memahami latar belakang atau mencari solusi yang manusiawi.
Bukan hanya untuk mencegah tragedi berikutnya, tetapi juga untuk menjaga martabat mereka yang pernah berjasa mencerdaskan kehidupan bangsa.












